Warga Muhammadiyah Harus Akrabi Internet

BANDUNG, Perkembangan zaman terus bergerak tanpa kendali. Di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi ditandai dengan tren kebudayaan digital di kalangan warga kota. Setiap individu banyak yang mencari informasi melalui internet. Oleh karena itu, menghadirkan informasi yang bermanfaat dan positif merupakan keniscayaan setiap gerakan dakwah dari ormas Islam. Sebagai gerakan dakwah modern, maka sejatinya Muhammadiyah akrab dengan internet. Sebab, selain efek negatif; internet juga dapat memberikan efek poistif.
 
Menurut Dr Karman, M.Ag, “warga Muhammadiyah harus menjadi pionir pemanfaatan internet untuk kepentingan tersebarnya nilai-nilai Islam di tengah masyarakat. Dalam bahasa lain, warga Muhammadiyah harus akrab dengan produk Teknologi Informasi dan Komunikasi.”
 
Dia juga mengatakan, “Selama digunakan untuk hal-hal positif, maka internet akan bermanfaat untuk kemajuan Muhammadiyah. Oleh karena itu, dari kalangan muda diharapkan ada yang berani menggagas media untuk dijadikan wahana mencari informasi positif itu. Misalnya saja, setiap PCM di daerah membangun situs, blog, dan media online sehingga ketika ada orang yang mencari informasi keislaman akan dibawa menuju laman yang dikelola PCM.”
 
Di Muhammadiyah sebetulnya sudah ada Lembaga Pustaka dan Informasi di setiap Pimpinan di Jawa Barat. Kalau saja dioptimalkan tentunya akan menghasilkan gerakan digital yang dahsyat. Semoga saja Muhammadiyah ke depan dapat mengarahkan setiap wilayah untuk menggarap warga digital, yang dalam kesehariannya mengakrabi internet. (REP: Sukron Abdilah/KM)

11:17 am | Posted in , | Read More »

Gali Potensi Kader Lewat DAD

BANDUNG, Pada pengkaderan tingkat Komisariat potensi kader sejatinya terus digali guna melahirkan manusia-manusia unggul. Hal itu terungkap dalam acara Darul Arqam Dasar (DAD) gabungan, yang diselenggarakan Korkom UIN SGD Bandung. Acara yang berlangsung Kamis-Minggu (12-14/11), itu berlangsung dengan baik.
 
Sejumlah pemateri, baik yang berasal dari alumni IMM maupun yang aktif di Muhammadiyah hadir membagikan ilmunya kepada peserta. Para peserta gabungan yang berasal dari UIN, STEIM, STAIM, dan STKIP Siliwangi menyimak secara seksama.
 
“Alhamdulillah pengkaderan kali ini berjalan sukses. Seluruh materi yang dirancang tersampaikan sesuai target. Pada pengkaderan kali ini, saya berharap setiap kader dapat menemukan potensi yang dimiliki”. Kata Rovi’I, ketua Korkom UIN SGD Bandung menjelaskan.
 
Format Gerakan
 
Ke depan diharapkan ada semacam format pengkaderan yang hirarkis. Artinya mengacu pada Sistem Pengkaderan Ikatan (SPI) yang dikeluarkan DPP IMM, sehingga lebih bermuatan ideologi gerakan yang khas. Pada kesempatan itu, Syafaat R Selamet, S.Hum mengatakan, “gerakan IMM harus menjadi cikal bakal gerakan Muhammadiyah di masa mendatang. Oleh karena itu, pengkaderan di tubuh IMM sejatinya digarap secara sistematis dan terarah”.
 
Salah satunya ialah dengan mengetahui potensi diri, kader Muhammadiyah dapat berkontribusi sesuai keahlian yang dimiliki untuk kemajuan Muhammadiyah. “Kan, KH Ahmad Dahlan pernah berwasiat silakan jadi insyinyur, dokter, mister; tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah. Ini berarti setiap kader diwajibkan menggali potensi dirinya sehingga di masa mendatang dapat berperan dalam memajukan Muhammadiyah.” Ujar Amin R Iskandar. (REP: Sukron Abdilah/KM)***

11:08 am | Posted in , | Read More »

IMM UIN Adakan MASTA dan DAD Se-kota Bandung

BANDUNG BARAT, Bertempat di panti Al-Kautsar, Lembang, KBB, IMM korkom UIN mengadakan kegiatan MASTA dan DAD anggota baru angkatan 2010, Kamis (12-14/10). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan IMM se-kota Bandung dari berbagai PTM. Diantaranya peserta dari STAIM, STIEM, UIN, Akper Aisyiah, dan UPI. Acara yang bertema Mengoptimalkan Trifungsi Ikatan Guna Membentuk Kader IMM yang Kompetitif, Kreatif, dan Proaktif  ini dibuka oleh pimpinan yayasan alkautsar sekaligus guru besar UPI Prof. Dr. Makhmud Syafei, MA. Mpd.I.

Dalam sambutanya, beliau berpesan agar IMM ke depan bisa lebih optimal lagi dalam memberikan kontribusinya pada semua level. Karena IMM sekarang sudah jadi ortom Muhammadiyah yang berada di level yang sangat strategis dalam hal itu.Sehingga pergerakan atau arah perjalananya bisa terfokus dengan baik.

Kegiatan ini juga menghadirkan pembicara-pembicara handal. Dosen, penulis, aktivis, dan pengurus PDM kota Bandung. Diantaranya  Drs. Karman, M.Ag, dosen Fakultas Adab UIN SGD Bandung. Penulis best seller Dahsyatnya Sholat Duha, Sabiel El-ma’rufi yang membawakan bahasan Tauhid sebagai pandangan hidup. Ada juga penulis yang lain, yaitu Roni Tabroni, S.Sos. Hadir juga alumni senior angkatan 1998-2001 yang mengisi acara.

Peserta DAD terlihat antusias karena selain dikasih materi, juga diadakan outbond dan diskusi keagamaan dan isu hangat. “ Saya merasa senang mengikuti acara ini karena bisa menambah wawasan keorganisasian serta bisa lebih mengenal lagi muhammadiyah dan isu kontemporer”, ucap Dede Waningsih, salah seorang peserta DAD dari STIEM saat ditemui reporter JEJARINGKU seusai outbond. (Feri Anugrah)

12:46 am | Posted in , | Read More »

Perbedaan Jangan Diperdebatkan

JAKARTA, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meminta agar perbedaan penetapan Hari Raya Idul Adha pada tahun ini tidak diperdebatkan. "Jangan diperdebatkan.  NU berpedoman hadist. Dalam hadist itu sudah jelas disampaikan, bahwa rukyah dasar untuk menentukan awal bulan Hijriah. Jika ada perbedaan, mari kita hormati perbedaan itu,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/11).

Hal yang sama juga dikatakan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin secara terpisah. Dia pun mengajak masyarakat untuk tidak meributkan perbedaan penetapan hari Raya Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah serta NU.

"Janganlah dipersoalkan dan dibesar-besarkan karena ini berdasarkan keyakinan keagamaan, karena pendekatan yang memang belum bisa disatukan. Muhammadiyah sendiri meyakini bahwa sesuai perintah Rasul agar kita berpuasa sunnah Arafah pada 9 Dzulhijah, dan kemarin sudah 9 Dzulhijah karena saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji sudah menjalankan wukuf di Arafah. Maka pada hari ini kami yakini sebagai Idul Adha,” kata Din.

Seperti diketahui, hari ini, warga Muhammadiyah menjalankan shalat Idul Adha. Sementara NU begitu pun pemerintah baru akan merayakan besok (Rabu, 16/11). [wid]

12:43 am | Posted in , | Read More »

Muhammadiyah Sumbang Seribu Hewan untuk Korban Bencana Alam

SURABAYA, Muhammadiyah menyumbang 1000 hewan kurban untuk korban bencana di Wasior, Papua Barat, dan Mentawai, Sumatera Barat, serta Merapi Yogyakarta. "Dari 1.000 hewan kurban, 200 di antaranya adalah sapi, dan sisanya kambing. Kemudian kami juga menyumbang sapi perah untuk keperluan diambil susunya, dan sapi ternak untuk korban bencana," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin ketika ditemui usai Sholat Idul Adha di Jalan Pahlawan, Surabaya, Selasa (16/11).

Din menjelaskan Muhammadiyah sudah mengeluarkan fatwa agar seluruh hewan kurban disalurkan kepada para korban di daerah bencana. Pihaknya, mengumpulkan sumbangan melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh (LAZIS) Muhammadiyah, dan sudah dikoordinasikan dengan pimpinan daerah Muhammadiyah di kota-kabupaten yang tertimpa musibah.

Bahkan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut, Selasa sore akan berangkat menuju kawasan pengungsian di Yogyakarta untuk secara simbolis menyerahkan dan menyembelih hewan kurban untuk para korban bencana.

"Sudah beberapa kali saya dan Muhammadiyah berkunjung ke pengungsian di Yogyakarta. Sore ini kami juga kembali kesana dan Secara simbolis saya yang akan memberikan, kemudian nanti akan diikuti semua di wilayah masing-masing. Sudah kewajiban kita untuk membantu para korban. Melalui momen Idul Adha inilah kita bisa membantunya," tukas pria bernama lengkap Sirajuddin Syamsuddin tersebut.

Dikatakannya, perayaan Idul Adha di Indonesia kali ini diperingati dalam suasana berduka. Bencana seperti banjir bandang di Wasior, tsunami di Kepulauan Mentawai, dan gunung meletus di Yogyakarta, membuat banyak warga yang tidak bisa merayakan Idul Adha seperti tahun - tahun sebelumnya.

"Padahal belum luntur dalam ingatan kita, ratusan ribu nyawa melayang dalam bencana tsunami di Aceh , gempa bumi di Yogyakarta dan Sumatera Barat. Namun, kali ini kita diperingatkan kembali untuk selalu mengingat kepada Allah," papar Din.

Karena itulah, lulusan University of California at Los Angeles (UCLA) Amerika Serikat tersebut mengajak masyarakat merenungi ujian yang diberikan Allah SWT untuk Bangsa Indonesia.

Selain itu, pria kelahiran Sumbawa Besar tersebut mengimbau pemangku jabatan dan amanat di negeri ini, mulai dari yang tertinggi sampai kepala desa, agar lebih taat dan mematuhi aturan yang ditetapkan agama.

Kemudian, bersama-sama mawas diri dan melakukan evaluasi diri karena mungkin selama ini masih bersikap tidak sesuai anjuran agama. (Ant/OL-9)

12:38 am | Posted in , | Read More »

Din Syamsuddin Bersama Artis Hibur Pengungsi Merapi

MAGELANG,  Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin bersama sejumlah artis ibu kota, menghibur para pengungsi korban bencana letusan Gunung Merapi. Acara itu dilakukan di tempat pengungsian Gedung Darul Arqam Muhammadiyah Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (17/11).

Sejumlah artis tersebut diantaranya, Cici Tegal, Ramzi, Kristina, Eksanti, dan Yolanda Yusuf. Mereka pun sempat meladeni permintaan foto dan tanda tangan dari para pengungsi.

Din Syamuddin dalam tausyiahnya mengatakan, bencana ini merupakan cobaan dari Allah. Namun jangan sekali-sekali beranggapan Allah membenci kalian. Dengan bencana ini Allah menunjukan rasa sayangnya kepada kita.

"Siapa yang tertimpa musibah haruslah bersabar. Katakanlah "innalillahi wa innailaihi rojiun". Kita berasal dari Allah dan akan kembali kehadiratnya," ungkap Din.

Pada kesempatan tersebut, para artis juga menyumbangkan bantuan secara langsung. Di antaranya berupa sembako dan pakaian layak. Din Syamsuddin ternyata tidak hanya membawa serta artis ibu kota. Dia turut menyerahkan bantuan seekor sapi kurban untuk para pengungsi. (Ant/**)

12:29 am | Posted in , | Read More »

Din Syamsudin Jadi Saksi Pernikahan Sepasang Pengungsi Merapi

YOGYAKARTA, Mungkin saja Agung Setiawan dan Lisnawati kelak tidak akan pernah melupakan setiap momen pernikahan mereka. Selain dilangsungkan di pengungsian, yang menjadi saksi pernikahan mereka adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Dan hebatnya publik figur yang terlibat dalam pernikahan tersebut tak hanya Din. Turut jadi saksi, Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, Camat Pakem Budiharjo, Camat Cangkringan Syamsul Bakri dan sejumlah anggota DPRD Sleman.

Upacara pernikahan dilangsungkan di lantai dua stadion Maguwoharjo, dihadiri oleh sanak saudara dari kedua mempelai. Seremoni berlangsung sederhana namun khidmat.

Mempelai pria, Agung mengatakan bahwa pernikahan tersebut terpaksa dilaksanakan di barak pengungsian karena rumah dan harta benda keluarga mempelai perempuan di Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman luluh lantak diterjang awan panas erupsi Gunung Merapi.

"Rumah saya juga masih diselimuti abu vulkanik," tandas pria berusia 22 tahun asal Jatimulyo, Kabupaten Magelang ini kepada wartawan, Rabu (17/11/2010) siang.

Agung sendiri bersikukuh untuk tetap melaksanakan rencana pernikahan yang telah ditentukan sebelumnya. Meski abu vulkanik menghadang, dia tidak mau menunda momen spesial dalam hidupnya tersebut, karena di adat jawa hari baik itu tidak boleh ditunda.

"Sebelumnya kami memang telah menentukan hari pernikahan yang bertepatan dengan Idul Adha ini. Kami tak mau menunda tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan, karena tanggal dan bulan inilah yang menurut para orang tua kami yang paling baik, nggak bisa diubah, apapun kondisinya," tegasnya mantap.

Menurut dia, dirinya bersama keluarganya juga menyadari kondisi keluarga calon istrinya yang sedang dalam kesusahan karena bencana Merapi, sehingga tidak masalah pernikahan dilangsungkan di barak pengungsian.

"Setelah menikah ini istri akan saya bawa ke rumah saya di Magelang dan tinggal sementara di sana," katanya.

Din yang juga memberikan khutbah pada upacara pernikahan ini sempat menawarkan kepada mempelai untuk berbulan madu tiga hari di rumah pribadinya di Pogungharjo Sleman atau memilih salah satu hotel berbintang di Yogyakarta untuk bulan madu tiga hari.

Namun tak disangka, kedua mempelai itu menolak secara halus tawaran Ketua Umum Muhammadiyah itu.

"Terimakasih Pak. Pernikahan ini sudah jadi kado terbaik buat kami. Semuanya sedang susah, kami tak bisa tinggal di hotel atau rumah bapak," tolak Agung yang merupakan pekerja di perkayuan itu dengan sopan.(detiknews)

12:24 am | Posted in | Read More »

Menguburkan "Egoisme Diri"

Oleh SUKRON ABDILAH

Kemiskinan yang terjadi di negeri kita banyak disebabkan persoalan struktural. Ketidakmampuan warga mendapatkan kelayakan hidup karena sistem kepolitikan negeri ini yang tidak prorakyat. Egoisme kepartaian, kelompok, dan diri sendiri menjadikan kesejahteraan hanya diperoleh segelintir orang. Mungkin, di negeri ini, realitas "si miskin makin miskin; dan si kaya makin kaya" terbukti. Oleh karena itu, pada Iduladha kali ini sejatinya kita menguburkan kepentingan-kepentingan egoistis karena berada pada wilayah kenegaraan yang majemuk dan plural.

Mementingkan "baju ideologis" dalam menelurkan kebijakan adalah pengkhianatan terhadap misi kemanusiaan yang terkandung dalam ajaran agama. Disyariatkannya ibadah kurban bagi yang mampu merupakan pesan bahwa berbagi kesejahteraan tidak boleh dilandasi kepentingan personal dan kelompok. Dalam bahasa lain, ibadah kurban mesti menyadarkan kita atas pentingnya menebarkan kebaikan pada seluruh umat manusia. Peka, empati, dan simpati ketika menyaksikan kesetimpangan sosial dan bencana yang terjadi.

Pesan simbolis

Dalam buku hajinya, Ali Syari’ati (Mizan, 2009) mengetengahkan hal itu sebagai penguburan nafsu dari anasir "egoisme diri" dalam aktivitas kemanusiaan (hablu minannas). Ketika Ibrahim a.s diperintahkan menyembelih anak terkasihnya, Ismail a.s., menurut Syari’ati, sarat dengan pesan simbolis. Perintah itu sebetulnya menuntun Ibrahim a.s. untuk tidak terjebak pada nafsu egois kepangkatan, kehormatan, keduniawian, kemewahan, gelar, status sosial, dan nafsu lainnya. Bagi orang-orang aghniya, pejabat, pengusaha, ibadah ini sejatinya menyadarkan diri agar tidak silau dengan rezeki dari-Nya sehingga melupakan hubungan dengan sesama.

Apalagi realitas keindonesiaan masih dilingkupi persoalan dehumanitas berupa kemiskinan, pengangguran, kebebalan moral, dan KKN. Saatnyalah kita menangkap inti sari perintah berkurban untuk kemaslahatan negara-bangsa hingga "fakir miskin" tidak merasa ditinggalkan dan tidak diperhatikan. Kalau mereka dibiarkan tanpa perhatian transformatif, niscaya mereka akan apatis terhadap nilai-nilai kebajikan agama dalam hidupnya, sehingga terjadilah realitas yang dikhawatirkan Sayyidina Ali Ibn Abu Thalib Karamallahu Wajh, "Kekufuran mendekatkannya pada kekafiran (pengingkaran)".

Menurut M. Quraish Shihab (1998: 449), fakir miskin diambil dari dua kata, yaitu faqir dan miskin. Term faqir berasal dari faqr yang berarti tulang punggung dan faqir dapat diartikan beratnya beban yang dipikul mengakibatkan patahnya tulang punggung. Hal ini membuat faqir menjadi tidak berdaya, lumpuh, dan tak mampu bergerak. Sementara miskin berasal dari kata sakana yang berarti diam dan tak bergerak. Jadi, fakir miskin secara terminologi dapat diartikan sebagai orang yang tak memiliki kecukupan harta akibat dirinya enggan bergerak (malas) dan tidak dapat berusaha karena adanya penindasan manusia lain (struktural).

Karena di dalam kurban terdapat perintah membagikan sembelihan, ini artinya setiap kalangan mampu (pengusaha, pemerintah, dan LSM) memberdayakan warga miskin agar mereka dapat bergerak leluasa mencari kesejahteraan hidup. Dalam perspektif ilmu dakwah, hal itu dikategorikan sebagai dakwah bil amal atau dikategorikan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat (tadbir) dengan pendekatan keagamaan karena agama secara progresif memiliki daya dobrak ke dalam (sentrifental) dan daya dobrak ke luar (sentrifugal). Sederhananya, ajaran agama dapat memotivasi penganutnya untuk mengubah diri dari dalam diri (internal) seperti menumpurkan kemalasan serta melahirkan kesadaran (atas ketimpangan struktural).

Optimisme

Alquran sebagai kitab pegangan umat Islam – yang terkandung perintah kurban– sangat tidak menganjurkan untuk memegang ideologi pesimisme. Apatisme dan terjebak pada kesadaran semu sangat ditentang. Di dalam Alquran kita diajarkan untuk terus optimistis memandang hidup, termasuk dalam memperoleh kekayaan. Hal ini diinformasikan di dalam ayat-ayat qauliyah, bahwa setiap makhluk-Nya dianugerahi rezeki (Q.S. Hud [17]:6); hal itu merupakan kenikmatan tak terkira (Q.S. Ibrahim [14]:34); dan Allah memberikannya sebagai pemenuhan kecukupan hidup (Q.S. Ad-Dhuha [93]:8).

Dalam suatu hadis, Rasulullah saw. juga mengajarkan umatnya, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan, dan kehinaan, dan aku berlindung pula dari menganiaya dan dianiaya" (H.R. Ibn Majah dan Al-Hakim). Doa yang dianjurkan Nabi Muhammad Saw. ini mengindikasikan seorang Muslim untuk memiliki keberdayaan hidup sehingga dirinya tidak menjadi objek penindasan. Ketika dirinya memperoleh keberdayaan hidup tidak menjadi manusia yang rajin mengeksploitasi atau menganiaya orang lain dalam bentuk apa pun.

Ketika realitas kekinian menampakkan bencana yang merenggut keberdayaan warga, sejatinya kita memberdayakan kembali mereka. Mendoakan, membantu, dan memotivasi warga yang terkena bencana juga sebab termasuk pelaksanaan kurban dalam Islam. Kalau merujuk pada pengertian M. Quraish Shihab, fakir miskin diartikan sebagai seorang manusia yang tak berdaya; korban bencana juga adalah "fakir miskin" yang wajib merasakan persaudaraan pada Iduladha. Oleh karena itu, Iduladha sejatinya menempa setiap jiwa untuk melakukan pembebasan tiap insan dari belenggu penderitaan dan kemiskinan.

Di dalam kurban terkandung semangat menumpurkan nafsu egoisme yang membahayakan eksistensi manusia di muka bumi. Sekiranya individu, umat, masyarakat, atau bangsa mampu mengisi ruang dan waktu atas dasar kesadaran kurban, dia bakal memperoleh kebahagiaan autentik. Kebahagiaan membebaskan manusia lemah dari sejumput penderitaan; baik akibat kemiskinan, bencana, dan penindasan. Alquran menegaskan, "Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah hidupnya dengan tangan kanannya." (Q.S. Al-Isra’ [17]: 71). Wallahualam.***

SUKRON ABDILAH, Aktivis Muda Muhammadiyah Jawa Barat. 
Sumber Tulisan: HU Pikiran Rakyat

12:18 am | Posted in , | Read More »

PP Muhammadiyah Galang Dana Kemanusiaan

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak kepada Pimpinan Wilayah, Daerah, Cabang, Ranting, Amal Usaha, anggota, simpatisan, dan masyarakat umum untuk mengerahkan/menggalang bantuan dana bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir bandang di Wasior Papua Barat, gempa dan tsunami di Mentawai Sumatera Barat, dan korban letusan gunung merapi di DIY dan Jawa Tengah, dan daerah-daerah lain.

Bantuan dana dapat disalurkan melalui rekening atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah:
  • MUAMALAT Cabang Yogyakarta Rek. 531-000-5115
  • MANDIRI SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 155-000-3000
  • BTN SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 704-1000-666
  • BNI SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 154-594-270
  • BRI  SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 708-33-41-0486-9
  • BANK NIAGA SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 508-01-0005-002
Himbauan tersebut tertuang dalam surat edaran nomer 09/EDR/I.0/A/2010. Dalam rangka memudahkan memudahkan pendataan, maka kami mintakan kepada para donatur dan kalayak untuk dapat memberitahukan kepada PP Muhammadiyah, baik melalui telpon, fax atau email yang disertai dengan bukti transfer. (No fax PP Muhammadiyah (0274)553137 - No telp (0274)553132

3:50 pm | Posted in , | Read More »

Muhammadiyah Mengelola Pengungsi Hingga Angka 30.130 Orang

YOGYAKARTA, Pasca Erupsi Kamis malam (4/11/2010) penduduk di lereng Merapi di dalam radius 20 KM dari puncak  harus mengungsi. Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga  Selasa  pagi(09/11/2010) mencatat jumlah pengungsi yg tersebar di sekitar Merapi mencapai jumlah 320.090 orang.  Sejumlah 30.130 orang dianantaranya (sekitar sepuluh persen) memadati lokasi pengungsian yang dikelola oleh warga Muhammadiyah.

Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mencatat jumlah pengungsi pada lokasi pengungsian yang dikelola warga Muhammadiyah kecenderungannya bertambah. Kenaikan terbesar ada di Kabupaten Sleman Yogyakarta dan Klaten di Jawa Tengah. Di wilayah Sleman Muhammadiyah mengambilalih pengelolaan yang sebelumnya barak-barak pengungsian hanya dikelola oleh pemerintah. Sementara di Magelang, lokasi pengungsian yg dikelola warga Muhammadiyah sudah mundur ke selatan Kota Muntilan, Ngluwar dan sekitar Borobudur sama dengan di Yogyakarta yang tidak saja berkonsentrasi di Sleman, namun juga sudah memasuki Kabupaten Bantul yang terkonsentrasi di kampus UMY, serta kota Yogyakarta, Kulon Progo dan Gunung Kidul yang jaraknya cukup jauh.

Konsentrasi  pengungsi di Kabupaten Klaten saat ini, terkumpul di lokasi pengungsian Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Basin Kebonarum  dan sekitarnya yang menembus  angka 2000 orang. Pengungsian yang dikelola warga secara swadaya ini warga ini dilengkapi dapur umum. Kekhawatirannya, persediaan logistik  terbatas, termasuk juga tempat tinggal yang saat ini sudah menggunakan rumah warga di sekitar sekolah tersebut. Menurut koordinator tim Psikososial MDMC, Sriyono, yang perlu diperhatikan juga aktifitas belajar mengajar di madrasah itu yang terganggu.

Selain itu, 1420 pengungsi juga terkonsentrasi di  lokasi pengungsian yang dikelola oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jatinom, Klaten. Banyak pengungsi yang datang dari arah Boyolali, dan mengungsi ke Jatinom. Senin malam, (08/11/2010) datang 700 pengungsi ke Tulung, sebuah kecamatan di timur Jatinom. Mendadak warga Muhammadiyah di lokasi itu mendirikan posko dan mengelola pengungsian untuk menolong mereka. Bantuan beras, lauk pauk, dan air minum kemasan sangat dibutuhkan di lokasi-lokasi ini.(mac)

3:30 pm | Posted in , , | Read More »

Buya Syafi'i: Bersahaja dan Kritis

Di bawah kepemimpinnya, Muhammadiyah menunjukkan kemitmen keislaman dan kebangsaan yang kuat. Ahmad Syafi'I Ma'arif, Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, memang dikenal sebagai seorang tokoh dan ilmuwan yang mempunyai komitmen kebangsaan yang kuat. Sikapnya kritis, tegas, dan bersahaja. Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.

Salah satu yang pernah kena kritik adalah Amien Rais, ketika sedang "berseteru" dengan Gus Dur. Ia mengharapkan kepada Amien supaya dapat bersikap tepo seliro. "Janganlah mengeluarkan kritikan kepada pihak lain, termasuk Gus Dur, dengan kalimat-kalimat yang terlalu tajam," ujarnya, dikutip Kompas, 18 April.

Lahir di Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935. Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keislaman yang kental. Lulus dari Ibtidaiyah Sumpurkudus, ia melanjutkan ke Madrasah Muallim Lintau, Sumbar, kemudian pindah ke Yogyakarta di sekolah yang sama. Ia memang mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto, Solo, hingga memperoleh gelar sarjana muda. Kemudian ia melanjutkan ke IKIP Yogyakarta, dan memperoleh gelar sarjana sejarah.

Selanjutnya, bekas alktivis HMI ini, terus meneruskan menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti program master di Departemen Sejarah Universtias Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi "Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia."

Selama di Chicago inilah, anak bungsu di antara empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dibimbing oleh seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazrul Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Kini, selain mengurus Muhammadiyah, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu, ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, berjudul "Dinamika Islam" dan "Islam, Mengapa Tidak?", kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian "Islam dan Masalah Kenegaraan", yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985.

Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia menggemari olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping menonton sepak bola dan menembak burung. (Tokoh Indonesia/dari berbagai sumber, terutama Tempo interaktif)

****

ACHMAD SYAFII MAARIF dilahirkan pada 31 mei 1935 di sebuah desa udik di Sumpurkudus, Sumatra Barat, sebuah daerah yang sumber penghasilannya dari perdagangan serba kecil dan tani. Putra Bungsu dari empat bersaudara pasangan Ma'rifah Rauf dan Fathiyah ini, waktu ecilnya mempunyai hobi menjala, memancing ikan dan menembakd dengan 'bedil' angin. Disamping itu dia juga aktif berolah raga joging, badminton serta tenis meja, tapi sekarang yang tersisa hanya joging dan Badminton
 
Sebelum meraih Ph.D di Chicago, Syafii kecil memulai pendidikannya di sekolah rakyat neegri, tetapi tidak punya ijazah, sebab masih zaman revolusi, dan merangkap di Madrasah Mualimin Lintau, Sumatra Barat sampai kelas tiga. Sebelum ke Lintau dia nggangur tiga tahun karena revolusi, kemudian dia belajar di Mualimin Yogjakarta sampai selesai
 
Lulus di Yogyakarta di ditugaskan ke Lombok Timur sebagai pengajar sekolah Muhammadiyah selama satu tahun, lalu pindah ke Jawa memulai belajar di FKIP Cokroaminoto Solo sampai sarjana muda pada usianya 29 tahun, di kampus inilah dia aktif di HMI cabang Solo dan menjadi ketua bidang pendidikan HMI cabang Solo periode 1963-1964. Dan pada tahun 1968 menyelesaikan sarjananya di FKIP Yogyakarta. Kemudian, meninggalkan Indonesia untuk belajar sejarah pada program master di universitas Ohio, AS
 
Guru besar UNY Yogyakarta ini jugapernah menjadi dosen pasca sarjana IAIN Yogyakarta. Dan sebelumnya terpilih menjadi ketua PP Muhammadiyah pada 1999-2004, tokoh yang juga pernah aktif di GPII dan pemuda Muhammadiyah, menggantikan Amien Rais yang memilih serius di partai politik PAN, walapun sesuasan sangat menyedihkan saat dua putranya, hanya tinggal Muhammad Hafizh yang baru selesai S2 di Roterdam Belanda jurusan Manajemen perkotaan (S.J Arifin 2004.Elkasa)
VISI Dunia International
 
Syafii berpendapat bahwa bangsa Indonesia harus lebih mengintensifkan dengan Masyarakat Eropa, khususnya Belanda dan Jerman. Alasannya pertama; mereka telah banyak membantu Indonesia, dan masa depan mereka bisa menjadi 'kompetitor' Amerika Serikat dan ini adalah asas paling penting bagi politik luar negeri Indonesia, walapun pendapat ini dimungkinkan para diplomat EU selalu memberikan 'Conflict manajement' pada anti Amerika dan Israel, sehingga, yang terjadi di Jakarta bahwa gerakan anti-semitic dan Israel telah mendapat dukungan dan pengaruhnya dari para kebijakan kebijakan anggota EU dan para diplomatnya (S.J Arifn 2004) dari sinilah gerakan anti semitic berkembang dan mendapat dukungan dari para deplomat EU di Jakarta
 
Maarif, yang juga akrab dengan panggilan Syafii, ahli di bidang pemikiran Islam. Ia mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Mula-mula di Lintau, Sumatera Barat, kemudian di Yogyakarta. Setelah mengambil pendidikan FKIP Cokroaminoto Surakarta di Solo, ia kembali ke Yogyakarta untuk menyelesaikan FKIS IKIP, 1968. Syafii juga bekas aktivis HMI Surakarta. Saat ini Pak Syafii juga menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah

Anak bungsu di antara empat bersaudara ini kemudian pergi ke AS untuk mendalami ilmu pemikiran Islam pada Universitas Chicago, Illinois. Di sanalah ia meraih gelar doktor pada 1982, dengan disertasi Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia
Maarif rajin berseminar dan menulis, dan sebagian besar karangannya mengenai Islam. Bukunya antara lain berjudul Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak? kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985.

Sebagai kolumnis, dosen Pasca-Sarjana IAIN Yogyakarta yang sehari-harinya mengajar di FP IPS IKIP Yogyakarta ini menulis artikel di majalah Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Genta, di samping di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.

Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia menggemari olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping menonton sepak bola dan menembak burung. 

Sumber :  www.hamline.edu

3:18 pm | Posted in , | Read More »

Ada Distorsi Cita-Cita

JAKARTA-' Saat ini telah terjadi deviasi dan distorsi terhadap cita-cita nasional seperti yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kehidupan politik juga karut-marut karena kepemimpinan nasional yang tidak transformatif dan lambannya alih kepemimpinan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin ketika bertemu Ketua MPR Taufiq Kiemas dan jajaran pimpinan MPR lainnya, Jumat (12/11) di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta.

Dalam pertemuan itu Din menyerahkan pemikiran dan keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang digelar 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta. ”Kami menyampaikan ini sebagai refleksi tanggung jawab kebangsaan. Muhammadiyah tidak kenal lelah berkiprah untuk bangsa dan negara, bagaimanapun cuaca politiknya,” kata Din.

Din menegaskan, Muhammadiyah mendukung empat pilar kehidupan berbangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Islam juga mendorong demokrasi. Namun,

demokrasi yang tidak disertai etika, supremasi hukum, dan kepemimpinan yang kuat akan menimbulkan sejumlah masalah.

”Saat ini terjadi distorsi dan deviasi cita-cita nasional yang telah dirumuskan para pendiri bangsa. Ini disebabkan kita tidak mampu menerjemahkan cita-cita itu dan mengatasi globalisasi,” papar Din.

Untuk itu Muhammadiyah mendesak segera dikembalikannya kehidupan bangsa ke cita-cita nasional. Untuk itu, di bidang politik, konsolidasi demokrasi mendesak segera dilakukan. Caranya, antara lain, dengan penyederhanaan partai politik, penegasan sistem presidensial, serta penataan kembali hubungan antara pemerintah pusat dan daerah.

”Kita juga sudah waktunya mempersiapkan sistem suksesi kepemimpinan nasional agar alih kepemimpinan pada Pemilu 2014 dapat berlangsung demokratis, damai, adil, dan konstitusional. Kampanye pemilu harus dibatasi pada hal-hal yang bersifat publikasi dan pencitraan,” ujar Din.

Arah bangsa ke depan sebaiknya juga tidak hanya ditentukan oleh visi pribadi pemimpin, tetapi juga konsensus rakyat. ”Setelah tidak ada Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), kita seperti kehilangan arah,” tutur Din.

Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari juga melihat kemungkinan adanya kerawanan jika arah Indonesia yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa hanya ditanggung oleh visi dan misi presiden. ”Konstitusi juga membuat presiden paling lama menjabat selama lima tahun. Apakah kelak juga ada kesinambungan visi jika presidennya berganti?” ujar Hajriyanto.

Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin menambahkan, MPR juga sedang mengkaji sejumlah hal, seperti perlu tidaknya GBHN dan sidang tahunan MPR untuk menyampaikan laporan perkembangan kehidupan bernegara. ”Saya berharap Muhammadiyah ikut mengkaji sejumlah hal itu,” ujarnya. (NWO) 

Sumber: Kompas.com

3:05 pm | Posted in , , | Read More »

Muhammadiyah Ranting Kuala Lumpur, Malaysia


Konsentrasi Muhammadiyah di luar negeri berbeda dengan di Indonesia. Di Luar negeri lebih  banyak berorientasi pengenalan. Dalam diskusi pengajian Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah Kuala Lumpur Sentral (PRIM-KLS) tanggal 18 April, Ustaz Muhammad Arifin Ismail menyampaikan makalah ilmiah yang berjudul, “Tantangan Kontemporer Umat Islam.”

Rencananya pengulas akan disampaikan oleh dua orang, tetapi Prof. Dr M. Jandra berhalangan hadir dan hanya Prof. Dr Susiknan Azhari saja yang memberi ulasan ringkas.

Ustaz Arifin menerangkan secara ilmiah dengan bersemangat tentang bahaya sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

Prof. Susiknan meluruskan beberapa kekeliruan tentang Muhammadiyah, termasuk soal dugaan adanya liberalisme di tubuh anggota Muhammadiyah. Susiknan juga  membahas fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah tentang haramnya rokok.

Tak lupa, Susiknan juga menyinggap masalah politik dan problem umat Islam.

Menurutnya, kegilaan umat Islam terhadap politik praktis kekuasaan juga menjadi penyebab lemahnya umat Islam termasuk di Indonesia. Seharusnya partai-partai Islam menjalin koalisi dan hubungan yang kukuh, tetapi malah saling menjatuhkan dan melemahkan, sehingga kemenangan partai Islam tidak mengurangi jumlah suara dalam partai sekuler, tetapi justru mengurangi jumlah suara dalam partai Islam yang lain.

Syahwat politik, menurut Prof. Siknan telah membuat energi umat Islam terkuras untuk tidak lagi fokus memikirkan masalah dakwah dan pendidikan sebagai asas kemajuan Umat.

Umat Islam juga sering dijadikan tumbal dan alat mencapai kekuasaan. Umat Islam ibarat pendorong mobil buruk, setelah mobil hidup yang mendorong ditinggalkan begitu saja.

Sebagaimana diketahui, konsentrasi Muhammadiyah di luar negeri tidak sama dengan yang ada di Indonesia. Tugas PRIM-KL masih banyak berorientasi kepada pengenalan.

“Banyak diantara kami yang dulunya tidak mengenal, anti bahkan memusuhi, sekarang menjadi anggota yang ‘militan’ dalam Muhammadiyah,” ujar salah seorang pengurus PRIM-KL.

Anggota PRIM-KLS yang baru mengenal Muhammadiyah telah dilakukan semacam upgrading seminggu sebelum itu, tentang apa dan bagaimananya organisasi dakwah ini. Upgrading yang semula untuk pengurus sekitar 15 orang saja, tetapi Alhamdulillah dihadiri sekitar 30-an orang.

Acara yang diikuti oleh persatuan pelajar Indonesia Universiti Malaya, keluarga dan juga beberapa orang Malaysia selaku anggota simpatisan PRIM-KLS di akhiri dengan doa.

Majelis yang dihadiri sekitar 80 orang itu mendoakan adik-adik UM yang akan mengikuti ujian minggu ini agar selalu diberikan kesuksesan dan tentunya harus diikuti dengan belajar yang rajin dan bersungguh-sungguh oleh adik-adik itu. [kiriman Afriadi Sanusi, Pengurus Muhammadiyah Malaysia/hidayatullah.com]

10:22 pm | Posted in , | Read More »

Din: Kasus Gayus Sungguh Memalukan


JAKARTA, Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin tampak kesal dengan munculnya kabar Gayus Tambunan yang bisa seenaknya keluar masuk tahanan. Menurut Din, kejadian ini sangat mempermalukan bangsa dalam upaya penegakan hukum. Kejadian ini juga menjadi bukti, pemerintah, terutama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, memang tidak serius.

"Ini sungguh-sungguh memprihatinkan, menyedihkan dan memalukan dan ini sekaligus membuktikan bahwa apa yang menjadi tekad pemerintah termasuk Bapak Presiden untuk memberantas korupsi, mafia hukum, ini tidak menjadi kenyataan. Ini catatan saya, apa yang sering disebutkan itu hanya kata-kata tapi tidak menjadi nyata. Ini terbukti sekali," ungkapnya usai bertemu pimpinan MPR RI, Jumat (12/11/2010).


Menurut Din, kasus Gayus seperti sebuah sekrup kecil dimana seorang tersangka dalam tahanan di Indonesia bisa bebas keluar masuk tahanan seenaknya. "Ini sungguh menampar penegakan hukum kita. Maka tidak ada kata lain daru saya selain, ini memalukan, tapi sekaligus membuktikan kita hanya sekedar berkata-kata dalam retorika politik tapi bukan sikap," tegasnya.


Din mengatakan akan bersabar menunggu apa yang terjadi. Namun, dirinya mendorong agar jangan hanya petugas Rutan di tingkat bawah yang ditetapkan bertanggung jawab. "Sementara atasannya enak-enak saja," katanya.

"Ini tidak bisa dibiarkan kalau seperti ini terus-menerus. Kita akan meluncur pada negara makelar yang bisa disetir dengan kekuatan uang. Jadi the power of money inilah yang telah menimbulkan demoralisasi di tubuh bangsa ini," tambahnya.  (Kompas.Com)

10:12 pm | Posted in , , | Read More »

Blog Archive

Recently Commented

Recently Added