Gali Potensi Kader Lewat DAD
11:08 am | Posted in Kabar, Ortom | Read More »
IMM UIN Adakan MASTA dan DAD Se-kota Bandung
Dalam sambutanya, beliau berpesan agar IMM ke depan bisa lebih optimal lagi dalam memberikan kontribusinya pada semua level. Karena IMM sekarang sudah jadi ortom Muhammadiyah yang berada di level yang sangat strategis dalam hal itu.Sehingga pergerakan atau arah perjalananya bisa terfokus dengan baik.
Kegiatan ini juga menghadirkan pembicara-pembicara handal. Dosen, penulis, aktivis, dan pengurus PDM kota Bandung. Diantaranya Drs. Karman, M.Ag, dosen Fakultas Adab UIN SGD Bandung. Penulis best seller Dahsyatnya Sholat Duha, Sabiel El-ma’rufi yang membawakan bahasan Tauhid sebagai pandangan hidup. Ada juga penulis yang lain, yaitu Roni Tabroni, S.Sos. Hadir juga alumni senior angkatan 1998-2001 yang mengisi acara.
Peserta DAD terlihat antusias karena selain dikasih materi, juga diadakan outbond dan diskusi keagamaan dan isu hangat. “ Saya merasa senang mengikuti acara ini karena bisa menambah wawasan keorganisasian serta bisa lebih mengenal lagi muhammadiyah dan isu kontemporer”, ucap Dede Waningsih, salah seorang peserta DAD dari STIEM saat ditemui reporter JEJARINGKU seusai outbond. (Feri Anugrah)
12:46 am | Posted in Kabar, Ortom | Read More »
Perbedaan Jangan Diperdebatkan
Hal yang sama juga dikatakan Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin secara terpisah. Dia pun mengajak masyarakat untuk tidak meributkan perbedaan penetapan hari Raya Idul Adha antara Muhammadiyah dan pemerintah serta NU.
"Janganlah dipersoalkan dan dibesar-besarkan karena ini berdasarkan keyakinan keagamaan, karena pendekatan yang memang belum bisa disatukan. Muhammadiyah sendiri meyakini bahwa sesuai perintah Rasul agar kita berpuasa sunnah Arafah pada 9 Dzulhijah, dan kemarin sudah 9 Dzulhijah karena saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji sudah menjalankan wukuf di Arafah. Maka pada hari ini kami yakini sebagai Idul Adha,” kata Din.
Seperti diketahui, hari ini, warga Muhammadiyah menjalankan shalat Idul Adha. Sementara NU begitu pun pemerintah baru akan merayakan besok (Rabu, 16/11). [wid]
12:43 am | Posted in Kabar, Tajdid | Read More »
Muhammadiyah Sumbang Seribu Hewan untuk Korban Bencana Alam
Din menjelaskan Muhammadiyah sudah mengeluarkan fatwa agar seluruh hewan kurban disalurkan kepada para korban di daerah bencana. Pihaknya, mengumpulkan sumbangan melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh (LAZIS) Muhammadiyah, dan sudah dikoordinasikan dengan pimpinan daerah Muhammadiyah di kota-kabupaten yang tertimpa musibah.
Bahkan, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut, Selasa sore akan berangkat menuju kawasan pengungsian di Yogyakarta untuk secara simbolis menyerahkan dan menyembelih hewan kurban untuk para korban bencana.
"Sudah beberapa kali saya dan Muhammadiyah berkunjung ke pengungsian di Yogyakarta. Sore ini kami juga kembali kesana dan Secara simbolis saya yang akan memberikan, kemudian nanti akan diikuti semua di wilayah masing-masing. Sudah kewajiban kita untuk membantu para korban. Melalui momen Idul Adha inilah kita bisa membantunya," tukas pria bernama lengkap Sirajuddin Syamsuddin tersebut.
Dikatakannya, perayaan Idul Adha di Indonesia kali ini diperingati dalam suasana berduka. Bencana seperti banjir bandang di Wasior, tsunami di Kepulauan Mentawai, dan gunung meletus di Yogyakarta, membuat banyak warga yang tidak bisa merayakan Idul Adha seperti tahun - tahun sebelumnya.
"Padahal belum luntur dalam ingatan kita, ratusan ribu nyawa melayang dalam bencana tsunami di Aceh , gempa bumi di Yogyakarta dan Sumatera Barat. Namun, kali ini kita diperingatkan kembali untuk selalu mengingat kepada Allah," papar Din.
Karena itulah, lulusan University of California at Los Angeles (UCLA) Amerika Serikat tersebut mengajak masyarakat merenungi ujian yang diberikan Allah SWT untuk Bangsa Indonesia.
Selain itu, pria kelahiran Sumbawa Besar tersebut mengimbau pemangku jabatan dan amanat di negeri ini, mulai dari yang tertinggi sampai kepala desa, agar lebih taat dan mematuhi aturan yang ditetapkan agama.
Kemudian, bersama-sama mawas diri dan melakukan evaluasi diri karena mungkin selama ini masih bersikap tidak sesuai anjuran agama. (Ant/OL-9)
12:38 am | Posted in Kabar, Peristiwa | Read More »
Din Syamsuddin Bersama Artis Hibur Pengungsi Merapi
Sejumlah artis tersebut diantaranya, Cici Tegal, Ramzi, Kristina, Eksanti, dan Yolanda Yusuf. Mereka pun sempat meladeni permintaan foto dan tanda tangan dari para pengungsi.
Din Syamuddin dalam tausyiahnya mengatakan, bencana ini merupakan cobaan dari Allah. Namun jangan sekali-sekali beranggapan Allah membenci kalian. Dengan bencana ini Allah menunjukan rasa sayangnya kepada kita.
"Siapa yang tertimpa musibah haruslah bersabar. Katakanlah "innalillahi wa innailaihi rojiun". Kita berasal dari Allah dan akan kembali kehadiratnya," ungkap Din.
Pada kesempatan tersebut, para artis juga menyumbangkan bantuan secara langsung. Di antaranya berupa sembako dan pakaian layak. Din Syamsuddin ternyata tidak hanya membawa serta artis ibu kota. Dia turut menyerahkan bantuan seekor sapi kurban untuk para pengungsi. (Ant/**)
12:29 am | Posted in Kabar, Peristiwa | Read More »
Din Syamsudin Jadi Saksi Pernikahan Sepasang Pengungsi Merapi
Dan hebatnya publik figur yang terlibat dalam pernikahan tersebut tak hanya Din. Turut jadi saksi, Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, Camat Pakem Budiharjo, Camat Cangkringan Syamsul Bakri dan sejumlah anggota DPRD Sleman.
Upacara pernikahan dilangsungkan di lantai dua stadion Maguwoharjo, dihadiri oleh sanak saudara dari kedua mempelai. Seremoni berlangsung sederhana namun khidmat.
Mempelai pria, Agung mengatakan bahwa pernikahan tersebut terpaksa dilaksanakan di barak pengungsian karena rumah dan harta benda keluarga mempelai perempuan di Dusun Kopeng, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman luluh lantak diterjang awan panas erupsi Gunung Merapi.
"Rumah saya juga masih diselimuti abu vulkanik," tandas pria berusia 22 tahun asal Jatimulyo, Kabupaten Magelang ini kepada wartawan, Rabu (17/11/2010) siang.
Agung sendiri bersikukuh untuk tetap melaksanakan rencana pernikahan yang telah ditentukan sebelumnya. Meski abu vulkanik menghadang, dia tidak mau menunda momen spesial dalam hidupnya tersebut, karena di adat jawa hari baik itu tidak boleh ditunda.
"Sebelumnya kami memang telah menentukan hari pernikahan yang bertepatan dengan Idul Adha ini. Kami tak mau menunda tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan, karena tanggal dan bulan inilah yang menurut para orang tua kami yang paling baik, nggak bisa diubah, apapun kondisinya," tegasnya mantap.
Menurut dia, dirinya bersama keluarganya juga menyadari kondisi keluarga calon istrinya yang sedang dalam kesusahan karena bencana Merapi, sehingga tidak masalah pernikahan dilangsungkan di barak pengungsian.
"Setelah menikah ini istri akan saya bawa ke rumah saya di Magelang dan tinggal sementara di sana," katanya.
Din yang juga memberikan khutbah pada upacara pernikahan ini sempat menawarkan kepada mempelai untuk berbulan madu tiga hari di rumah pribadinya di Pogungharjo Sleman atau memilih salah satu hotel berbintang di Yogyakarta untuk bulan madu tiga hari.
Namun tak disangka, kedua mempelai itu menolak secara halus tawaran Ketua Umum Muhammadiyah itu.
"Terimakasih Pak. Pernikahan ini sudah jadi kado terbaik buat kami. Semuanya sedang susah, kami tak bisa tinggal di hotel atau rumah bapak," tolak Agung yang merupakan pekerja di perkayuan itu dengan sopan.(detiknews)
12:24 am | Posted in Kabar | Read More »
Menguburkan "Egoisme Diri"
Kemiskinan yang terjadi di negeri kita banyak disebabkan persoalan struktural. Ketidakmampuan warga mendapatkan kelayakan hidup karena sistem kepolitikan negeri ini yang tidak prorakyat. Egoisme kepartaian, kelompok, dan diri sendiri menjadikan kesejahteraan hanya diperoleh segelintir orang. Mungkin, di negeri ini, realitas "si miskin makin miskin; dan si kaya makin kaya" terbukti. Oleh karena itu, pada Iduladha kali ini sejatinya kita menguburkan kepentingan-kepentingan egoistis karena berada pada wilayah kenegaraan yang majemuk dan plural.
Mementingkan "baju ideologis" dalam menelurkan kebijakan adalah pengkhianatan terhadap misi kemanusiaan yang terkandung dalam ajaran agama. Disyariatkannya ibadah kurban bagi yang mampu merupakan pesan bahwa berbagi kesejahteraan tidak boleh dilandasi kepentingan personal dan kelompok. Dalam bahasa lain, ibadah kurban mesti menyadarkan kita atas pentingnya menebarkan kebaikan pada seluruh umat manusia. Peka, empati, dan simpati ketika menyaksikan kesetimpangan sosial dan bencana yang terjadi.
Pesan simbolis
Dalam buku hajinya, Ali Syari’ati (Mizan, 2009) mengetengahkan hal itu sebagai penguburan nafsu dari anasir "egoisme diri" dalam aktivitas kemanusiaan (hablu minannas). Ketika Ibrahim a.s diperintahkan menyembelih anak terkasihnya, Ismail a.s., menurut Syari’ati, sarat dengan pesan simbolis. Perintah itu sebetulnya menuntun Ibrahim a.s. untuk tidak terjebak pada nafsu egois kepangkatan, kehormatan, keduniawian, kemewahan, gelar, status sosial, dan nafsu lainnya. Bagi orang-orang aghniya, pejabat, pengusaha, ibadah ini sejatinya menyadarkan diri agar tidak silau dengan rezeki dari-Nya sehingga melupakan hubungan dengan sesama.
Apalagi realitas keindonesiaan masih dilingkupi persoalan dehumanitas berupa kemiskinan, pengangguran, kebebalan moral, dan KKN. Saatnyalah kita menangkap inti sari perintah berkurban untuk kemaslahatan negara-bangsa hingga "fakir miskin" tidak merasa ditinggalkan dan tidak diperhatikan. Kalau mereka dibiarkan tanpa perhatian transformatif, niscaya mereka akan apatis terhadap nilai-nilai kebajikan agama dalam hidupnya, sehingga terjadilah realitas yang dikhawatirkan Sayyidina Ali Ibn Abu Thalib Karamallahu Wajh, "Kekufuran mendekatkannya pada kekafiran (pengingkaran)".
Menurut M. Quraish Shihab (1998: 449), fakir miskin diambil dari dua kata, yaitu faqir dan miskin. Term faqir berasal dari faqr yang berarti tulang punggung dan faqir dapat diartikan beratnya beban yang dipikul mengakibatkan patahnya tulang punggung. Hal ini membuat faqir menjadi tidak berdaya, lumpuh, dan tak mampu bergerak. Sementara miskin berasal dari kata sakana yang berarti diam dan tak bergerak. Jadi, fakir miskin secara terminologi dapat diartikan sebagai orang yang tak memiliki kecukupan harta akibat dirinya enggan bergerak (malas) dan tidak dapat berusaha karena adanya penindasan manusia lain (struktural).
Karena di dalam kurban terdapat perintah membagikan sembelihan, ini artinya setiap kalangan mampu (pengusaha, pemerintah, dan LSM) memberdayakan warga miskin agar mereka dapat bergerak leluasa mencari kesejahteraan hidup. Dalam perspektif ilmu dakwah, hal itu dikategorikan sebagai dakwah bil amal atau dikategorikan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat (tadbir) dengan pendekatan keagamaan karena agama secara progresif memiliki daya dobrak ke dalam (sentrifental) dan daya dobrak ke luar (sentrifugal). Sederhananya, ajaran agama dapat memotivasi penganutnya untuk mengubah diri dari dalam diri (internal) seperti menumpurkan kemalasan serta melahirkan kesadaran (atas ketimpangan struktural).
Optimisme
Alquran sebagai kitab pegangan umat Islam – yang terkandung perintah kurban– sangat tidak menganjurkan untuk memegang ideologi pesimisme. Apatisme dan terjebak pada kesadaran semu sangat ditentang. Di dalam Alquran kita diajarkan untuk terus optimistis memandang hidup, termasuk dalam memperoleh kekayaan. Hal ini diinformasikan di dalam ayat-ayat qauliyah, bahwa setiap makhluk-Nya dianugerahi rezeki (Q.S. Hud [17]:6); hal itu merupakan kenikmatan tak terkira (Q.S. Ibrahim [14]:34); dan Allah memberikannya sebagai pemenuhan kecukupan hidup (Q.S. Ad-Dhuha [93]:8).
Dalam suatu hadis, Rasulullah saw. juga mengajarkan umatnya, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan, dan kehinaan, dan aku berlindung pula dari menganiaya dan dianiaya" (H.R. Ibn Majah dan Al-Hakim). Doa yang dianjurkan Nabi Muhammad Saw. ini mengindikasikan seorang Muslim untuk memiliki keberdayaan hidup sehingga dirinya tidak menjadi objek penindasan. Ketika dirinya memperoleh keberdayaan hidup tidak menjadi manusia yang rajin mengeksploitasi atau menganiaya orang lain dalam bentuk apa pun.
Ketika realitas kekinian menampakkan bencana yang merenggut keberdayaan warga, sejatinya kita memberdayakan kembali mereka. Mendoakan, membantu, dan memotivasi warga yang terkena bencana juga sebab termasuk pelaksanaan kurban dalam Islam. Kalau merujuk pada pengertian M. Quraish Shihab, fakir miskin diartikan sebagai seorang manusia yang tak berdaya; korban bencana juga adalah "fakir miskin" yang wajib merasakan persaudaraan pada Iduladha. Oleh karena itu, Iduladha sejatinya menempa setiap jiwa untuk melakukan pembebasan tiap insan dari belenggu penderitaan dan kemiskinan.
Di dalam kurban terkandung semangat menumpurkan nafsu egoisme yang membahayakan eksistensi manusia di muka bumi. Sekiranya individu, umat, masyarakat, atau bangsa mampu mengisi ruang dan waktu atas dasar kesadaran kurban, dia bakal memperoleh kebahagiaan autentik. Kebahagiaan membebaskan manusia lemah dari sejumput penderitaan; baik akibat kemiskinan, bencana, dan penindasan. Alquran menegaskan, "Mereka itulah yang akan menerima lembaran sejarah hidupnya dengan tangan kanannya." (Q.S. Al-Isra’ [17]: 71). Wallahualam.***
12:18 am | Posted in Kabar, Opini | Read More »
PP Muhammadiyah Galang Dana Kemanusiaan
- MUAMALAT Cabang Yogyakarta Rek. 531-000-5115
- MANDIRI SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 155-000-3000
- BTN SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 704-1000-666
- BNI SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 154-594-270
- BRI SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 708-33-41-0486-9
- BANK NIAGA SYARIAH Cabang Yogyakarta Rek. 508-01-0005-002
3:50 pm | Posted in Dakwah, Kabar | Read More »
Muhammadiyah Mengelola Pengungsi Hingga Angka 30.130 Orang
Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) mencatat jumlah pengungsi pada lokasi pengungsian yang dikelola warga Muhammadiyah kecenderungannya bertambah. Kenaikan terbesar ada di Kabupaten Sleman Yogyakarta dan Klaten di Jawa Tengah. Di wilayah Sleman Muhammadiyah mengambilalih pengelolaan yang sebelumnya barak-barak pengungsian hanya dikelola oleh pemerintah. Sementara di Magelang, lokasi pengungsian yg dikelola warga Muhammadiyah sudah mundur ke selatan Kota Muntilan, Ngluwar dan sekitar Borobudur sama dengan di Yogyakarta yang tidak saja berkonsentrasi di Sleman, namun juga sudah memasuki Kabupaten Bantul yang terkonsentrasi di kampus UMY, serta kota Yogyakarta, Kulon Progo dan Gunung Kidul yang jaraknya cukup jauh.
Konsentrasi pengungsi di Kabupaten Klaten saat ini, terkumpul di lokasi pengungsian Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Basin Kebonarum dan sekitarnya yang menembus angka 2000 orang. Pengungsian yang dikelola warga secara swadaya ini warga ini dilengkapi dapur umum. Kekhawatirannya, persediaan logistik terbatas, termasuk juga tempat tinggal yang saat ini sudah menggunakan rumah warga di sekitar sekolah tersebut. Menurut koordinator tim Psikososial MDMC, Sriyono, yang perlu diperhatikan juga aktifitas belajar mengajar di madrasah itu yang terganggu.
Selain itu, 1420 pengungsi juga terkonsentrasi di lokasi pengungsian yang dikelola oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jatinom, Klaten. Banyak pengungsi yang datang dari arah Boyolali, dan mengungsi ke Jatinom. Senin malam, (08/11/2010) datang 700 pengungsi ke Tulung, sebuah kecamatan di timur Jatinom. Mendadak warga Muhammadiyah di lokasi itu mendirikan posko dan mengelola pengungsian untuk menolong mereka. Bantuan beras, lauk pauk, dan air minum kemasan sangat dibutuhkan di lokasi-lokasi ini.(mac)
3:30 pm | Posted in Amal Usaha, Kabar, Peristiwa | Read More »
Buya Syafi'i: Bersahaja dan Kritis
Salah satu yang pernah kena kritik adalah Amien Rais, ketika sedang "berseteru" dengan Gus Dur. Ia mengharapkan kepada Amien supaya dapat bersikap tepo seliro. "Janganlah mengeluarkan kritikan kepada pihak lain, termasuk Gus Dur, dengan kalimat-kalimat yang terlalu tajam," ujarnya, dikutip Kompas, 18 April.
Lahir di Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935. Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keislaman yang kental. Lulus dari Ibtidaiyah Sumpurkudus, ia melanjutkan ke Madrasah Muallim Lintau, Sumbar, kemudian pindah ke Yogyakarta di sekolah yang sama. Ia memang mengambil seluruh pendidikan menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto, Solo, hingga memperoleh gelar sarjana muda. Kemudian ia melanjutkan ke IKIP Yogyakarta, dan memperoleh gelar sarjana sejarah.
Selanjutnya, bekas alktivis HMI ini, terus meneruskan menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti program master di Departemen Sejarah Universtias Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi "Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia."
Selama di Chicago inilah, anak bungsu di antara empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dibimbing oleh seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazrul Rahman. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.
Kini, selain mengurus Muhammadiyah, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu, ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, berjudul "Dinamika Islam" dan "Islam, Mengapa Tidak?", kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian "Islam dan Masalah Kenegaraan", yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985.
Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia menggemari olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping menonton sepak bola dan menembak burung. (Tokoh Indonesia/dari berbagai sumber, terutama Tempo interaktif)
VISI Dunia International
Anak bungsu di antara empat bersaudara ini kemudian pergi ke AS untuk mendalami ilmu pemikiran Islam pada Universitas Chicago, Illinois. Di sanalah ia meraih gelar doktor pada 1982, dengan disertasi Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia
Maarif rajin berseminar dan menulis, dan sebagian besar karangannya mengenai Islam. Bukunya antara lain berjudul Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak? kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, 1984. Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES, 1985.
Sebagai kolumnis, dosen Pasca-Sarjana IAIN Yogyakarta yang sehari-harinya mengajar di FP IPS IKIP Yogyakarta ini menulis artikel di majalah Panji Masyarakat, Suara Muhammadiyah, Genta, di samping di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.
Menikah dengan Nurkhalifah, ia ayah seorang anak laki-laki. Ia menggemari olah raga tenis meja, bulu tangkis, catur, di samping menonton sepak bola dan menembak burung.
3:18 pm | Posted in Kabar, Profil Tokoh | Read More »
Ada Distorsi Cita-Cita
Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin ketika bertemu Ketua MPR Taufiq Kiemas dan jajaran pimpinan MPR lainnya, Jumat (12/11) di Kompleks Gedung Parlemen, Jakarta.
Dalam pertemuan itu Din menyerahkan pemikiran dan keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah yang digelar 3-8 Juli 2010 di Yogyakarta. ”Kami menyampaikan ini sebagai refleksi tanggung jawab kebangsaan. Muhammadiyah tidak kenal lelah berkiprah untuk bangsa dan negara, bagaimanapun cuaca politiknya,” kata Din.
Din menegaskan, Muhammadiyah mendukung empat pilar kehidupan berbangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Islam juga mendorong demokrasi. Namun,
demokrasi yang tidak disertai etika, supremasi hukum, dan kepemimpinan yang kuat akan menimbulkan sejumlah masalah.
”Saat ini terjadi distorsi dan deviasi cita-cita nasional yang telah dirumuskan para pendiri bangsa. Ini disebabkan kita tidak mampu menerjemahkan cita-cita itu dan mengatasi globalisasi,” papar Din.
Untuk itu Muhammadiyah mendesak segera dikembalikannya kehidupan bangsa ke cita-cita nasional. Untuk itu, di bidang politik, konsolidasi demokrasi mendesak segera dilakukan. Caranya, antara lain, dengan penyederhanaan partai politik, penegasan sistem presidensial, serta penataan kembali hubungan antara pemerintah pusat dan daerah.
”Kita juga sudah waktunya mempersiapkan sistem suksesi kepemimpinan nasional agar alih kepemimpinan pada Pemilu 2014 dapat berlangsung demokratis, damai, adil, dan konstitusional. Kampanye pemilu harus dibatasi pada hal-hal yang bersifat publikasi dan pencitraan,” ujar Din.
Arah bangsa ke depan sebaiknya juga tidak hanya ditentukan oleh visi pribadi pemimpin, tetapi juga konsensus rakyat. ”Setelah tidak ada Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), kita seperti kehilangan arah,” tutur Din.
Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari juga melihat kemungkinan adanya kerawanan jika arah Indonesia yang berpenduduk lebih dari 230 juta jiwa hanya ditanggung oleh visi dan misi presiden. ”Konstitusi juga membuat presiden paling lama menjabat selama lima tahun. Apakah kelak juga ada kesinambungan visi jika presidennya berganti?” ujar Hajriyanto.
Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin menambahkan, MPR juga sedang mengkaji sejumlah hal, seperti perlu tidaknya GBHN dan sidang tahunan MPR untuk menyampaikan laporan perkembangan kehidupan bernegara. ”Saya berharap Muhammadiyah ikut mengkaji sejumlah hal itu,” ujarnya. (NWO)
3:05 pm | Posted in Kabar, Peristiwa, Polhukam | Read More »
Muhammadiyah Ranting Kuala Lumpur, Malaysia
10:22 pm | Posted in Kabar, PRM | Read More »
Din: Kasus Gayus Sungguh Memalukan
Din mengatakan akan bersabar menunggu apa yang terjadi. Namun, dirinya mendorong agar jangan hanya petugas Rutan di tingkat bawah yang ditetapkan bertanggung jawab. "Sementara atasannya enak-enak saja," katanya.
"Ini tidak bisa dibiarkan kalau seperti ini terus-menerus. Kita akan meluncur pada negara makelar yang bisa disetir dengan kekuatan uang. Jadi the power of money inilah yang telah menimbulkan demoralisasi di tubuh bangsa ini," tambahnya. (Kompas.Com)
10:12 pm | Posted in Kabar, Peristiwa, Polhukam | Read More »











